Rabu, 28 November 2012

Artikel Tawuran Pelajar


ARTIKEL TAWURAN PELAJAR


Perkelahian, atau yang sering disebut tawuran, sering terjadi di antara pelajar. Bahkan bukan “hanya” antar pelajar SMU, tapi juga sudah melanda sampai ke kampus-kampus. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar pada remaja.
DAMPAK PERKELAHIAN PELAJAR
Jelas bahwa perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia.
PANDANGAN UMUM TERHADAP PENYEBAB PERKELAHIAN PELAJAR
Sering dituduhkan, pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah kejuruan, berasal dari keluarga dengan ekonomi yang lemah. Data di Jakarta tidak mendukung hal ini. Dari 275 sekolah yang sering terlibat perkelahian, 77 di antaranya adalah sekolah menengah umum. Begitu juga dari tingkat ekonominya, yang menunjukkan ada sebagian pelajar yang sering berkelahi berasal dari keluarga mampu secara ekonomi. Tuduhan lain juga sering dialamatkan ke sekolah yang dirasa kurang memberikan pendidikan agama dan moral yang baik. Begitu juga pada keluarga yang dikatakan kurang harmonis dan sering tidak berada di rumah.
Padahal penyebab perkelahian pelajar tidaklah sesederhana itu. Terutama di kota besar, masalahnya sedemikian kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang padat misalnya), serta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota.
Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat. Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, mereka bangga kalau dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya.
Peristiwa seperti itu tidak boleh dibiarkan.  Semua pihak harus merasa prihatin dan tidak boleh sekedar menuding atau menyalahkan pihak-pihak tertentu. Apa jadinya, manakala peristiwa seperti itu terjadi di tempat lain dan selalu berulang. Siapapun akan gelisah. Orang tua yang menyekolahkan anaknya tidak akan tenang, khawatir anaknya menjadi korban. Kepala sekolah dan guru akan merasa terbebani. Demikian pula, siswa yang sebenarnya tidak ikut-ikut akan merasa terancam.
Jumlah sekolah sedemikian banyak. Manakala tidak ada jaminan keselamatan dan ketenangan, maka pihak-pihak yang terkait dengan sekolah akan gelisah dan merasa tertekan.  Sekolah yang semestinya melahirkan suasana damai,  menyenangkan, dan menjadi harapan masa depan,  justru berbalik menjadi tempat yang menakutkan dan atau setidak-tidak mengkhawatirkan. Sekolah tidak boleh melahirkan suasana seperti itu.
Sekolah adalah tempat anak-anak menimba ilmu, berlatih  berperilaku  luhur, terpuji dan mulia.  Di tempat itu para siswa diajari  ilmu pengetahuan dan tata krama pergaulan sehari-hari. Ke sekolah bukan mencari musuh, melainkan justru  belajar tentang banyak hal,  tidak terkecuali mencari teman. Tidak ada satu pun  sekolah yang mengajari para siswanya bermusuhan, dan  apalagi  tawuran.  Kejadian itu betul-betul membuat  banyak orang repot dan wajar  melahirkan pertanyaan, sebenarnya ada apa di sekolah hingga peristiwa  yang sangat menyedihkan  itu  terjadi.
Ada beberapa hal yang kiranya bisa diambil  pelajaran dan juga bahan perenungan selanjutnya, yaitu :
Pertama, Bahwa kualitas hasil pendidikan tidak selalu ditentukan oleh jumlah anggaran yang disediakan. Dulu,  banyak orang  mengkritik rendahnya kualitas pendidikan, disebabkan jumlah anggaran  sangat terbatas. Ternyata setelah pemerintah menganggarkan 20 % dari APBN pada setiap tahunnya,  persoalan pendidikan masih saja muncul,  yang juga tidak kurang rumitnya untuk diselesaikan, seperti adanya tawuran antar pelajar ini.
Kedua, sementara orang menganggap  bahwa pendidikan di kota, lebih-lebih di kota besar lebih unggul dibandingkan dengan pendidikan di kota kecil dan  apalagi di pedesaan.  Pada  aspek-aspek tertentu, pendidikan di perkotaan  memiliki kelebihan, seperti sarana dan prasarana, lingkungan, dan lain-lain. Akan tetapi ternyata, lingkungan perkotaan memiliki problem tersendiri yang tidak selalu mendukung  prosess pendidikan. Pendidikan kharakter,mungkin justru lebih mudah  ditanamkan  di sekolah-sekolah yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan.
Ketiga, pendidikan  tidak cukup hanya dimaknai  secara sederhana, yaitu sebagai  proses penyampaian seperangkat pelajaran yang  tertuang dalam kuriukulum pada setiap jenjang satuan pendidikan.  Mata pelajaran itu sebenarnya adalah alat yang digunakan untuk membentuk watak, prilaku,  dan tabiat para siswa.  Namun  terasa aneh ketika pelajaran itu dianggap sebagai sesuatu yang harus diterima oleh para siswa pada rentangan waktu tertentu, lingkup tertentu, dan kedalaman tertentu. Kewajiban para siswa menerima pelajaran, tanpa mereka mengetahui  maksud dan filosofinya, kecuali  hanya agar lulus ujian, akan dirasakan sebagai beban yang memberatkan. Manakala itu yang  terjadi, maka para siswa  tidak akan merasakan nikmatnya  belajar,  dan bahkan juga nikmatnya ilmu pengetahuan. Selain itu, sekolah hanya akan diangap sebagai  tahapan  yang harus dilalui oleh setiap anak pada usia tertentu. Akibatnya, sekolah  tidak lebih menjadi tempat yang menggelisahkan dan membelenggu. Suasana seperti itu bisa diamati gelajanya dari ketika mereka lulus akan mengekspresikan kegembiraannya secara berlebihan, lewat saling mencorat-coret baju, dan juga kebut-kebutan.
Keempat, mestinya harus disadari bahwa,  pelajaran apapun yang diberikan di sekolah, tujuannya  harus diketahui benar oleh para siswa. Dalam Islam, kegiatan pencaharian ilmu adalah dimaksudkan untuk meraih puncak religiousitas, yaitu memahami  dirinya sebagai bekal  untuk mengenali Tuhannya. Oleh karena itu, maka belajar apa saja, biologi, fisika, kimia, matematika, psikologi, sosiologi, sejarah, seni, bahasa,  filsafat, dan lain-lain,  harus  memulainya  dengan menyebut Asma Allah,  dan baru berakhir dalam arti meraih  apa yang dicari  tatkala mencapai puncak kesadaran,  tentang adanya Dzat Yang Maha Kuasa.
            Proses dan orientasi seperti dikemukakan itu,  sangat berbeda dibandingkan dengan  ketika  mempelajari ilmu pengetahuan hanya dimaksudkan untuk mempersiapkan ujian dan kemudian agar  memperoleh selembar ijazah. Proses kegiatan  seperti itu bisa dimaknai, sebagaimana seringkali terdengar, yaitu para siswa baru diajar,  tetapi belum dididik.  Maka pantas,  mereka mudah  tawuran, dan kehilangan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung tinggi sebagai anak terpelajar.  
            terdapat sedikitnya 4 faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar.
1. Faktor internal. Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya.
2. Faktor keluarga. Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya, ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirinya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya.

3. Faktor sekolah. Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. Baru setelah itu masalah pendidikan, di mana guru jelas memainkan peranan paling penting. Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentuk berbeda) dalam “mendidik” siswanya.
4. Faktor lingkungan. Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota (bisa negara) yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi 



KESIMPULAN
Perkelahian, atau yang sering disebut tawuran, sering terjadi di antara pelajar. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar pada remaja. Banyak sekali dampak negatif dari tawuran tersebut contoh umum nya seperti luka atau tewas nya para siswa dan rusaknya fasilitas umum. Penyebab perkelahian pelajar tidaklah sesederhana itu. Terutama di kota besar, masalahnya sedemikian kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang padat misalnya), serta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota.
Sekolah adalah tempat anak-anak menimba ilmu, berlatih  berperilaku  luhur, terpuji dan mulia.  Di tempat itu para siswa diajari  ilmu pengetahuan dan tata krama pergaulan sehari-hari. Ke sekolah bukan mencari musuh, melainkan justru  belajar tentang banyak hal,  tidak terkecuali mencari teman. Faktor-faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar yaitu : Faktor Internal, Faktor Keluarga, Faktor Sekolah, Faktor Lingkungan.
PENDAPAT
Perkelahian pelajar tentu merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Banyak faktor yang di tuduhkan seperti yang dialamatkan ke sekolah yang dirasa kurang memberikan pendidikan agama dan moral yang baik. Begitu juga pada keluarga yang dikatakan kurang harmonis dan sering tidak berada di rumah. Padahal penyebab terjadinya perkelahian itu tidak sesederhana itu. Mestinya harus disadari bahwa,  pelajaran apapun yang diberikan di sekolah, tujuannya  harus diketahui benar oleh para siswa. Dalam Islam, kegiatan pencaharian ilmu adalah dimaksudkan untuk meraih puncak religiousitas, yaitu memahami  dirinya sebagai bekal  untuk mengenali Tuhannya.
Sumber :

   http://www.kpai.go.id/publikasi-mainmenu-33/artikel/258-tawuran-pelajar-memprihatinkan-dunia-pendidikan.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar